Minggu, 25 Desember 2022

Mengenal Bentuk Aljabar

Mengenal Bentuk Aljabar


1. Apersepsi Bentuk Aljabar

Perhatikan percakapan berikut!

Suatu ketika terjadi percakapan antara Pak Tono dan Pak Yudi. Mereka berdua baru saja membeli buku di suatu toko grosir.

Pak Tono         : “Pak Yudi, kelihatannya beli buku banyak sekali.”

Pak Yudi         : “Iya, Pak. Ini pesanan dari sekolah saya. Saya beli 2 kardus buku dan 3 buku pak. Pak Tono beli apa saja?”

Pak Tono         : “Saya hanya membeli 5 buku saja, Pak. Buku ini untuk anak saya yang kelas 7 SMP.”

Dari percakapan tersebut, dapat kita ketahui bahwa 

Jumlah buku yang dibeli Pak Tono adalah 2x + 3. Disimbolkan dengan huruf "x" karena belum diketahui jumlah buku yang ada dalam kardus tersebut dan kita asumsikan jumlah buku dalam kardus tersebut adalah sama.

                                        


Jumlah buku yang dibeli Pak Yudi adalah 5 buku. Kenapa hanya 5 saja? Sebab, jumlah buku yang dibeli Pak Yudi sudah jelas nilainya, pasti 5. 
                

2. Definisi Aljabar
    Bentuk aljabar, adalah cabang ilmu matematika dimana dalam penyelesaian masalah, angka akan digantikan dengan sebuah huruf. Kata Aljabar sendiri diambil dari bahasa Arab “al-jabr” yang berarti “pengumpulan bagian yang rusak”. Istilah ini diambil dari judul buku Ilm al-jabr wa’l-muḳābala karya matematikawan dan astronom Persia, Al-Khwarizmi.

    Bentuk Aljabar adalah suatu bentuk matematika yang penyajiannya memuat variabel (peubah) untuk mewakili bilangan yang belum diketahui.     

3. Penemu Aljabar

  Penemu aljabar adalah seorang ahli matematika Persia bernama Muhammad bin Musa Khawarizmi, yang dikenal dengan Al-Khawarizmi. Dalam catatan sejarah manusia, Al-Khawarizmi adalah tokoh penting yang mengembangkan ilmu matematika, dan dijuluki sebagai Bapak Aljabar. Selain menemukan aljabar, ia juga merupakan penemu angka nol (0). 

    Al-Khawarizmi adalah ilmuwan Islam, yang lahir di sebuah kota kecil bernama Khawarizm di Uzbekistan sekitar tahun 780 Masehi. Sejak kecil, dia tinggal di Selatan kota Bagdad. Di tempat inilah, Al-Khawarizmi menjadi anggota Bayt Al-Hikmah, yakni lembaga penerjemah, pusat penelitian ilmu pengetahuan, dan perpustakaan besar yang didirikan Harun Al-Rasyid. Sepanjang hidupnya, Al-Khawarizmi mengabdi dalam bidang pendidikan maupun riset ilmiah. Hal itu membuatnya mampu untuk menguasai berbagai bahasa, bahkan menerjemahkan buku. Berkat kecintaannya terhadap pendidikan, dia berhasil menerbitkan karya buku paling terkenal dalam dunia pendidikan. 

    Dilansir dari Interactive Mathematics, pada 825 Masehi dia menuliskan buku berjudul "Hisab Al-jabrwal-muqabala", artinya pemulihan bagian buku yang rusak. Melalui buku tersebut, para ilmuwan hingga saat ini menggunakan kata aljabar dalam matematika. Tujuan dari aljabar adalah untuk memecahkan persamaan linear, atau kuadrat dengan menghilangkan negatif menggunakan proses penyeimbangan kedua sisi persamaan.

4. Bagian-bagian dari Bentuk Aljabar

  • Koefisien merupakan angka yang ada di depan variabel
  • Variabel merupakan simbol yang biasanya dilambangkan dengan huruf kecil, seperti : a, b, c, …, z
  • Konstanta merupakan angka yang tidak mempunyai variabel atau berdiri sendiri
  • Suku merupakan variabel beserta koefisiennya atau konstanta pada bentuk aljabar yang dipisahkan oleh operasi jumlah atau selisih.
5. Jenis-jenis Suku 
  • Suku sejenis : suatu suku dalam aljabar yang memiliki variabel yang sama atau suku konstanta dalam aljabar.
  • Suku tak sejenis : suku - suku yang variabelnya tidak sama atau derajatnya tidak sama.

Itu dia tadi penjelasan mengenai materi "Mengenal Bentuk Aljabar"
Semoga bermanfaat.

Agar lebih paham, silahkan tonton video di bawah ini ya

💕

Kamis, 15 Desember 2022

Makalah Pengelolaan Kelas Pasca Bencana

KATA PENGANTAR 

OM Swastyastu,

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat rahmatnyalah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pengelolaan Kelas Pasca Bencana” ini tepat pada waktunya.

            Dalam penyusunan makalah ini, kami mendapat banyak bantuan baik bantuan moral maupun bantuan secara material dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini kami sampaikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.

            Makalah ini ditulis guna memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Kelas dan Pembelajaran Remidial yang diampu oleh Dr. Kadek Adi Wibawa, S.Pd., M.Pd. Bagi kami makalah ini merupakan sebuah makalah yang sangat sederhana, maka dari itu kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan dalam penyusunan maupun isi dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik, serta masukan dan konstruktif yang bersifat positif demi kesempurnaan makalah ini.

OM Santih, Santih, Santih OM

 

Denpasar, 10 November 2022

 

 

Penulis



 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

            Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana alam merupakan suatu kejadian atau peristiwa alam yang tiba-tiba terjadi, tanpa terencana, dan tidak dapat diduga oleh siapapun. Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rentan terjadi bencana alam, setidaknya ada tiga penyebab sering terjadinya bencana di Indonesia. Pertama, posisi Indonesia di antara dua benua dan dua samudera. Kedua, Indonesia terletak di antara lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Ketiga, Indonesia juga terletak di lingkaran cincin api Pasifik. Keadaan geografis tersebut menyebabkan Indonesia sebagai tempat strategis untuk perdagangan dan hubungan antar negara. Namun, pada sisi lain posisi tersebut menyebabkan Indonesia rentan terhadap bencana.

            Bencana membawa efek negatif luar biasa pada seluruh sendi kehidupan manusia. Temuan berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang sangat signifikan pada berbagai problem kesehatan fisik dan psikologis penyintas bencana jangka panjang. Itu bisa berupa penurunan kemampuan individu dalam melakukan penyesuaian diri karena berkaitan dengan perubahan kehidupan personal, interpersonal, sosial, dan ekonomi pasca bencana.

            Penelitian lain juga menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara hilangnya kekayaan pribadi, dukungan sosial, dan kesehatan fisik dengan meningkatnya stress psikologis pasca bencana. Dampak bencana menurut Gregor (2005) sangat terasa pada sebagian orang akibat kehilangan keluarga dan sahabat, kehilangan tempat tinggal, dan harta benda, kehilangan akan makna kehidupan yang dimiliki, perpindahan tempat hidup serta perasaan ketidakpastian karena kehilangan orientasi masa depan, serta keamanan personal.

            Baik pada anak maupun pada orang dewasa dampak bencana bervariasi dari jangka pendek sampai jangka panjang. Dampak emosional jangka pendek yang masih dapat dilihat dengan jelas meliputi rasa takut dan cemas yang akut, rasa sedih dan bersalah yang kronis, serta munculnya perasaan hampa. Pada sebagian orang perasaan-perasaan ini akan pulih seiring berjalannya waktu. Namun pada sebagian yang lain dampak emosional bencana dapat berlangsung lebih lama berupa trauma dan problem penyesuaian pada kehidupan personal, interpersonal, sosial, dan ekonomi pasca bencana. Sehingga penanganan trauma (traumatic healing) patut menjadi fokus baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa.

            Dalam bidang pendidikan, dengan adanya bencana-bencana yang rentan terjadi, pemerintah melakukan kegiatan tanggap darurat, termasuk dengan mendirikan sekolah darurat bagi anak-anak terdampak bencana. Pendirian/penyelenggaraan sekolah darurat ini adalah sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang menyatakan bahwa negara mewujudkan hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan dasar 9 (sembilan) tahun yang bermutu dan bebas biaya dengan mendukung upaya-upaya pengembangan pendidikan alternatif khususnya untuk daerah-daerah yang terkena bencana, terpencil, serta untuk kelompok-kelompok yang memiliki kebutuhan khusus (Depdiknas, 2003). Rekonstruksi sekolah darurat adalah salah satu pengembangan infrastruktur. Setelah sekolah dibangun, perlu digunakan untuk proses pembelajaran. Pembangunan sekolah darurat ini harus dilanjutkan dengan persiapan staf pengajar dan persiapan siswa dan kebutuhan belajar mereka. Tetapi harus dipikirkan bahwa ketika itu terjadi, tidak hanya siswa yang trauma, para guru juga mengalami trauma.

            Pemerintah juga menyadari bahwa beban psikologis dan trauma anak atas bencana dapat membuat anak kehilangan motivasi belajarnya. Secara psikologis, dampak bencana menurut Daryanto dapat mengakibatkan anak-anak kelelahan rohani. Kemudian, kelelahan rohani ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar anak (Daryanto, 2010). Kondisi yang demikian ini membutuhkan penanganan yang khusus agar tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan (Joyful learning).

            Di antara para korban bencana, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana membuat siswa belajar. Agar dapat belajar dalam kondisi pascabencana, tentu itu bukan masalah yang mudah. Ada kemungkinan bahwa bangunan sekolah hancur, bahan ajar hilang, seragam sekolah hilang, siswa berlindung dengan orang tua mereka, guru trauma, orang-orang tinggal di tempat pengungsian, dan sebagainya. Untuk mengatasi masalah siswa yang menjadi korban bencana, perlu dibuat sistem pendidikan yang fleksibel.

 

1.2  Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1.2.1        Bagaimanakah permasalahan pendidikan di daerah pasca bencana?

1.2.2   Bagaimanakah karakter yang perlu ditumbuhkan sebagai bagian keberlanjutan pendidikan di daerah bencana?

1.2.3        Bagaimanakah strategi pelaksanaan pendidikan darurat pasca bencana?

1.2.4        Bagaimanakah implementasi pembelajaran pada daerah bencana?

1.2.5        Apa sajakah hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas pasca bencana?

1.2.6        Bagaimanakah langkah-langkah perancangan pembelajaran pasca bencana?

 

1.3  Tujuan Penulisan

            Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.3.1        Untuk mendeskripsikan permasalahan pendidikan di daerah pasca bencana.

1.3.2       Untuk mendeskripsikan karakter yang perlu ditumbuhkan sebagai bagian keberlanjutan pendidika di daerah bencana.

1.3.3        Untuk mendeskripsikan strategi pelaksanaan pendidikan darurat pasca bencana.

1.3.4        Untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran pada daerah bencana.

1.3.5      Untuk mendeskripsikan hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas pasca bencana.

1.3.6        Untuk mendeskripsikan langkah-langkah perancangan pembelajaran pasca bencana.

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Permasalahan Pendidikan di Daerah Pasca Bencana

            Masalah yang muncul akibat pasca bencana alam meliputi masalah psikologi, sosial ekonomi dan yang tak kalah menarik adalah keberlanjutan pendidikan anak-anak pasca bencana di daerah tertinggal.

            Permasalahan lain yang muncul dari bencana alam tersebut adalah masalah pendidikan, terutama menyangkut pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Kalau kita berbicara pendidikan formal misalnya; banyak gedung sekolah yang hancur dan tidak dapat digunakan untuk melaksanakan proses pembelajaran; atau kalau pun dapat, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Permasalahannya ialah, bagaimana nasib anak-anak yang bersekolah di tempat itu? Akankah mereka dibiarkan saja tidak bersekolah karena kondisinya memang sedang chaos? Permasalahan seperti inilah yang harus memperoleh solusi terbaik, utamanya bagi anak-anak korban bencana alam itu sendiri.

Dalam konteks pelayanan pendidikan, anak yang menjadi korban bencana alam dapat dikategori sebagai anak yang memiliki kelainan sosial; dan oleh karenanya mereka berhak memperoleh pendidikan khusus dari penyelenggara negara alias pemerintah. Konkretnya, meskipun daerah atau pemukimannya sedang terkena musibah bencana alam namun demikian anak-anak yang bermukim di daerah tersebut harus tetap mendapat perhatian atas kelangsungan pendidikannya. Dengan kata lain pendidikan anak di daerah bencana alam tidak boleh diabaikan.

Karena itu, evaluasi untuk keberlanjutan pendidikan jangan terjebak dengan formalitas pendidikan. Proses belajar-mengajar tidak harus dilakukan di dalam ruangan. Di mana saja dan kapan saja proses pendidikan bisa berlangsung. Hal terpenting sekarang adalah bagaimana menyiapkan anak-anak korban bencana agar tidak kehilangan masa depannya. Sungguh sangat disayangkan apabila potensi dan kecerdasan mereka harus sirna gara-gara tidak adanya sarana dan prasarana pendidikan.

 

2.2  Karakter yang Perlu Ditumbuhkan sebagai Bagian Keberlanjutan Pendidikan di Daerah Bencana

            Korban bencana yang tidak memiliki imunitas psikologis khususnya anak-anak akan menunjukkan perilaku antara lain menangis terus menerus, merintih memanggil orang sudah meninggal karena bencana, duduk menyendiri dengan tatapan hampa, ketakutan, dan tak memiliki nafsu makan. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi jika mereka dibiarkan dan tidak ada yang peduli. Tentu bantuan makanan dan obat-obatan yang melimpah ruah, pembangunan rumah, pendidikan, dan kesehatan menjadi kurang bermanfaat.

            Banyak makanan tersedia tetapi mereka tidak ingin makan, diberi modal tapi enggan berusaha, dibangun sekolah tapi tidak ada yang berminat, diberi obat tetapi tetap sakit, dibangunkan rumah juga tidak merasa bahagia. Oleh karena itu mengembalikan kondisi mental yang porak poranda akibat bencana, penting dilakukan beriringan dengan rehabilitasi fisik dan sarana prasarana agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan efektif. Hal ini sejalan dengan peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana, yang menyatakan bahwa salah satu aspek penting rehabilitasi adalah masalah sosial psikologi yang dihadapi korban bencana.

            Pada anak yang mengalami trauma pada saat bencana alam yang perlu diperbaiki adalah karakter. Karakter yang dapat kita tumbuhkan salah satunya dapat menerima keadaan dan menumbuhkan daya juang. Khusus pada daerah yang mengalami pasca bencana sebagai relawan kita dapat memberikan beragam penyuluhan guna membangun kembali psikologi baik anak melalui pembelajaran yang menarik maupun dengan trauma healing dan tentunya tidak harus formal, upaya yang pernah dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan ketrampilan pada anak, karena dengan adanya pelatihan tersebut anak dapat bersosialisasi baik dengann teman sejawatnya maupun dengan orang tua dan penyuluh, melupakan sejenak mereka ada di lokasi darurat dan belajar dengan kondisi yang serba sederhana, tapi selaku relawan kita selain dapt membantu memperbaiki psikologi anak juga dapat membuat sikap anak menjadi tangguh karena dengan adanya pelatihan keterampilan mereka dapat melanjutkan hidup dan pengetahuan mereka secara tidak langsung juga bertambah.

            Selain itu daya juang dan jiwa wirausaha mereka dapat tumbuh karena merasa terjepit pasca bencaal. Melalui pembentukan karakter yang diberikan pulalah anak dapat kembali mendapat pembelajaran meski sedang berada dalam situasi pasca bencana dan kondisi darurat.

 

2.3  Strategi Pelaksanaan Pendidikan Darurat Pasca Bencana

            Sebelumnya di Indonesia dan juga sebagian besar negara di dunia mengalami bencana pandemi Covid-19. Bencana ini telah melumpuhkan seluruh sendi kehidupan termasuk pendidikan. Dua tahun lamanya anak dan mahasiswa tidak dapat sekolah Proses pembelajaran dilakukan secara jarak jauh yaitu di rumah. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 719/P/2020, tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus, pada salinan Kemendikbud tersebut dinyatakan bahwa:

a.      Kurikulum pada Kondisi Khusus

      Berdasarkan hasil kajian, pelaksanaan kurikulum dalam kondisi darurat (khusus) harus memperhatikan:

1)      Usia dan tahap perkembangan peserta didik

            Pembelajaran berbasis aktifitas yang menyenangkan sesuai dengan usia dan perkembangan peserta didik. Dalam pemilihan aktifitas, untuk SD kelas rendah (1, 2, dan 3) harus memperhatikan aspek keamanan, kondisi psikologis, dan mudah dilaksanakan dengan kondisi yang ada.

2)      Capaian kompetensi pada kurikulum yang mengutamakan kebermaknaan dan kebermanfaatan dalam meningkatkan kualitas hidup di masa kini dan masa yang akan datang.

            Pembelajaran berbasis aktifitas yang mengarah kepada keterampilan dasar yang bermanfaat langsung dalam kehidupan anak. Pelaksanaan kurikulum di daerah bencana (kondisi darurat) untuk jenjang pendidikan SD kelas rendah (kelas 1, 2, dan 3) difokuskan kepada kompetensi literasi dasar (membaca, menulis, dan berhitung). Sedangkan untuk jenjang pendidikan SD kelas atas (kelas 4, 5, dan 6) difokuskan kepada kompetensi literasi dan numerasi lanjutan, peduli lingkungan, kebersamaan, gotong-royong, kemandirian, dan saling menghargai. Untuk jenjang pendidikan SMP dan SMA/Sederajat difokuskan kepada keterampilan abad 21 (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif).

3)      Mengutamakan potensi, kebutuhan, budaya masyarakat, dan kearifan lokal.

            Pembelajaran dapat dilakukan menggunakan berbagai sumber/media pembelajaran. Umumnya sumber belajar di sekolah dominan pada guru dan buku-buku pelajaran yang telah dirancang secara khusus (by design). Banyak sumber belajar yang dapat digunakan, antara lain: pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan (AETC, 1985). Sumber belajar tersebut dapat dikategorikan dalam dua jenis yaitu, pertama yang dirancang secara khusus untuk pembelajaran (by design), antara lain: buku pelajaran, guru, video pembelajaran, audio pembelajaran, laboratorium, dan sejenisnya. Kedua, sumber belajar yang tidak dirancang untuk pembelajaran tetapi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran (by utilization), antara lain: lingkungan sekitar sekolah, tokoh masyarakat, praktisi, media massa, dan sejenisnya.

            Pembelajaran pada daerah bencana dapat menggunakan berbagai sumber belajar atau media pembelajaran yang tersedia di lokasi bencana, baik sumber belajar by design maupun by utilization. Secara kuantitatif, jumlah sumber belajar by utilization sangat banyak di sekitar sekolah dan di masyarakat. Kuncinya adalah kreativitas guru dan siswa untuk memanfaatkan sumber-sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi pembelajaran. Begitupun pada daerah bencana, guru dan siswa dituntut memiliki kreativitas dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar.

            Acuan pemanfaatan media/sumber belajar adalah ketercapaian kurikulum. Guru dituntut memahami kurikulum, terutama kompetensi yang dituntut dalam pembelajaran. Begitupun siswa diupayakan untuk terbiasa memahami tujuan pembelajaran. Setiap akan melaksanakan pembelajaran, hendaknya siswa dibiasakan paham terhadap apa kompetensi atau kemampuan yang dituntut dalam kurikulum. Tujuan pembelajaran merupakan acuan dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan pembelajaran juga merupakan acuan dalam memilih media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan tersebut.

            Pembelajaran pada daerah bencana, penting memahami tujuan pembelajaran tersebut. Tujuan pembelajaran, biasanya sudah dirumuskan pada setiap buku teks pelajaran. Para siswa dan guru dapat memperhatikan terhadap tujuan yang telah dirumuskan pada buku teks pelajarn tersebut. Mengacu pada tujuan tersebut, guru, siswa, dan orangtua siswa, serta relawan dapat melakukan berbagai bentuk atau model-model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi di daerah bencana.

            Prinsip pembelajaran bahwa tidak ada satupun model pembelajaran yang cocok untuk semua kondisi pembelajaran. Begitupun tidak ada satu media pembelajaran atau metode pembelajaran yang cocok untuk semua kondisi pembelajaran.

            Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran dimana pemilihan metode, model, atau media pembelajaran yang tepat sesuai dengan kondisi pembelajaran masing masing. Artinya metode, model, atau media pembelajaran yang baik di daerah bencana adalah yang sesuai dengan kondisi/situasi di daerah tersebut. Indikator ‘sesuai’ adalah yang tersedia, bisa dimanfaatkan, dan relevan dengan capaian tujuan pembelajaran tersebut. Disinilah peran guru dan orang tua sangat penting dalam keberhasilan proses pembelajaran di daerah bencana. Acuan efektivitas pembelajaran adalah ketercapaian kompetensi yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran.

            Media pembelajaran secara umum dapat dibagi dalam dua jenis yaitu media cetak dan media elektronik. Media pembelajaran dalam bentuk cetak, misalnya: buku, modul, buku latihan, brosur, leaflet, media massa cetak (koran, majalah), bahan bacaan cetak dan sejenisnya. Media pembelajaran bentuk elektronik, milsanya: audio pembelajaran, video/TV pembelajaran, media massa elektronik, multimedia, buku elektronik, dan sejenisnya.

            Sama halnya dengan sumber berlajar, media pembelajaran (cetak dan elektronik) ada yang dirancang secara khusus untuk pembelajaran (by design) dan ada pula yang tidak dirancang untuk pembelajaran tetapi dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran (by design), misalnya media massa. Penggunaan media pembelajaran di daerah bencana bisa menggunakan kedua kelompok media tersebut.

            Kelompok media pembelajaran (cetak dan elektronik) memiliki karakteristik kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Media pembelajaran cetak, kelebihannya: bisa digunakan secara praktis, mudah diulang-ulang, dan tidak perlu menggunakan peralatan khusus. Di sisi lain media pembelajarn cetak, kelemahannya dalam hal distribusi perlu dilakukan secara langsung dan perlu biaya pengiriman. Karakteristik media pembelajaran elektronik, kelebihannya: lebih menarik dalam pemanfaatan, distribusinya mudah khususnya yang berbasis jaringan (internet). Kelemahannya, perlu peralatan khusus (devices) dan dukungan jaringan internet.

            Tingkat keefektifan media pembelajaran tersebut sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan yang tepat. Media pembelajaran by design belum menjamin menghasilkan pembelajaran yang efektif. Sebaliknya, pemanfaatan media pembelajaran by utilization sangat mungkin lebih efektif digunakan jika dilakukan melalui pemilihan dan penggunaan yang tepat.

            Pemanfaatan media pada daerah bencana, bisa menggunakan media pembelajaran cetak maupun elektronik. Pemilihan media pembelajaran perlu mempertimbangkan berbagai faktor, terutama ketersediaan infrastruktur di daerah bencana, antara lain: jaringan internet, teknologi broadcast (siaran radio dan televisi), jaringan listrik, dan sejenisnya.

            Daerah yang tidak memiliki dukungan infrastruktur listrik dan internet tidak disarankan untuk menggunakan media pembelajaran dalam bentuk elektronik. Pada daerah ini lebih cocok menggunakan media pembelajaran dalam bentuk cetak. Begitupun budaya masyarakat lokal, jika belum melek teknologi TIK khususnya untuk pembelajaran sebaiknya tidak dipaksakan menggunakan media pembelajaran dalam bentuk elektronik. Pada daerah seperti ini bisa dilakukan penggunaan campuran antara media cetak dan media elektronik. Faktor budaya dan kearifan masyarakat lokal di daerah bencana sangat penting dipertimbangkan dalam memilih: metode dan media pembelajaran.

4)      Karakteristik alam, jenis, dan karakteristik bencana

            Pembelajaran dalam kondisi darurat harus memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan alam, topografi lingkungan, budaya masyarakat, tingkat resiko, dan kesiapan peserta didik.

b.      Prinsip-Prinsip Pembelajaran dalam Kondisi Darurat

      Berdasarkan hasil kajian, pembelajaran dalam kondisi darurat (khusus) tetap dilaksanakan berdasarkan prinsip:

1)      Aktif yaitu pembelajaran mendorong keterlibatan penuh peserta didik dalam perkembangan belajarnya, mempelajari bagaimana dirinya dapat belajar, merefleksikan pengalaman belajarnya, dan menanamkan pola pikir bertumbuh;

2)      Relasi sehat antar pihak yang terlibat yaitu pembelajaran mendorong semua pihak yang terlibat untuk menaruh pengharapan yang tinggi terhadap perkembangan belajar peserta didik, menciptakan rasa aman, saling menghargai, percaya, dan peduli, terlepas dari keragaman latar belakang peserta didik;

3)      Inklusif yaitu pembelajaran yang bebas dari diskriminasi Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), tidak meninggalkan peserta didik manapun, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus/penyandang disabilitas, serta memberikan pengembangan ruang untuk identitas, kemampuan, minat, bakat, serta kebutuhan peserta didik;

4)  Keragaman budaya yaitu pembelajaran mencerminkan dan merespon keragaman budaya Indonesia yang menjadikannya sebagai kekuatan untuk merefleksikan pengalaman kebhinekaan serta menghargai nilai dan budaya bangsa;

5)   Berorientasi sosial yaitu mendorong peserta didik untuk memaknai dirinya sebagai bagian dari lingkungan serta melibatkan keluarga dan masyarakat;

6)     Berorientasi pada masa depan yaitu pembelajaran mendorong peserta didik untuk mengeksplorasi isu dan kebutuhan masa depan, keseimbangan ekologis, sebagai warga dunia yang bertanggung jawab dan berdaya;

7)  Sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik yaitu pembelajaran difokuskan pada tahapan dan kebutuhannya, berfokus pada penguasaan kompetensi, berpusat pada peserta didik untuk membangun kepercayaan dan keberhargaan dirinya; dan

8)  Menyenangkan yaitu pembelajaran mendorong peserta didik untuk senang belajar dan terus menumbuhkan rasa tertantang bagi dirinya, sehingga dapat memotivasi diri, aktif dan kreatif, serta bertanggung jawab pada kesepakatan yang dibuat bersama. Pembelajaran dalam Kondisi Khusus dilaksanakan secara kontekstual dan bermakna dengan menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik, Satuan Pendidikan, dan daerah serta memenuhi prinsip pembelajaran.

c.       Asesmen dalam Kondisi Darurat

      Asesmen dalam kondisi darurat (khusus) dilaksanakan mengacu pada capaian kompetensi pada kurikulum yang mengutamakan kebermaknaan dan kebermanfaatan dalam meningkatkan kualitas hidup di masa kini dan masa yang akan datang. Pelaksanaan asesmen di daerah bencana (kondisi darurat) untuk jenjang pendidikan SD kelas rendah (kelas 1, 2, dan 3) difokuskan kepada capaian kompetensi literasi dasar (membaca, menulis, dan berhitung). Sedangkan untuk jenjang pendidikan SD kelas atas (kelas 4, 5, dan 6) difokuskan kepada capaian kompetensi literasi dan numerasi lanjutan, peduli lingkungan, kebersamaan, gotong-royong, kemandirian, dan saling menghargai. Untuk jenjang pendidikan SMP dan SMA/Sederajat difokuskan kepada capaian keterampilan abad 21 (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif).

      Hasil asesmen digunakan oleh pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali sebagai umpan balik dalam perbaikan pembelajaran. Selama proses darurat bencana, pembelajaran dilakukan melalui berbagai aktifitas yang mengintegrasikan pemulihan trauma dengan capaian kompetensi. Pembelajaran ini dilakukan dalam berbagai kelompok:

1)      Kelompok kecil bersifat homogen (sekitar 10 anak dengan kelas yang hampir sama) didampingi oleh satu atau dua pembimbing/tutor/relawan.

2)      Kelompok kecil bersifat heterogen (sekitar 10 anak dengan kelas yang beragam) didampingi oleh satu atau dua pembimbing/tutor/relawan.

3)  Kelompok sedang bersifat homogen (sekitar 10 - 30 anak dengan kelas yang hampir sama) didampingi oleh satu atau dua atau lebih pembimbing atau tutor atau relawan.

4)   Kelompok sedang bersifat heterogen (sekitar 10 - 30 anak dengan kelas yang berbeda) didampingi oleh satu atau dua atau lebih pembimbing/tutor/relawan.

5)   Kelompok besar bersifat homogen (di atas 30 anak kelas yang hampir sama) didampingi oleh satu atau dua atau lebih pembimbing/tutor/relawan.

6)   Kelompok besar bersifat heterogen (di atas 30 anak kelas yang beragam) didampingi oleh satu atau dua atau lebih pembimbing/tutor/relawan.

      Dalam kelompok tersebut, baik kecil, sedang, dan besar; baik homogen maupun heterogen, semua dilakukan trauma healing dalam bentuk permainan, diskusi, simulasi, kegiatan seni, olahraga, dan menonton tayangan (film atau dongeng).


2.4  Implementasi Pembelajaran pada Daerah Bencana

            Implementasi pembelajaran pada daerah bencana dapat dilakukan dengan berbagai strategi, metode, dan juga langkah-langkah yang tepat. Ketepatan ini didasarkan pada kondisi lokasi, kesiapan insfrastruktur, dan juga sosial budaya masyarakat lokal. Model pembelajaran diupayakan pada aktivitas pembelajaran yang menyenangkan, melibatkan tidak hanya kognitif tetapi juga aspek psikomotorik. Hal ini penting sebagai upaya untuk mengurangi rasa jenuh, stres, trauma, dan berbagai dampak psikis akibat bencana yang telah mereka alami.

            Beberapa bentuk dan model pembelajaran yang dapat dilakukan di daerah bencana, antara lain:

a.       Praktek Nyata

      Banyak bentuk dan praktek pembelajaran yang bisa dilakukan di daerah bencana. Praktek ini bisa dilakukan pada lokasi pengungsian atau tempat-tempat anak-anak korban bencana ditampung. Praktek ini diupayakan yang memiliki multi fungsi, baik proses maupun hasilnya. Misalnya praktek bersama dalam memasak berbagai makanan olahan, praktek olahraga, kesenian, prakarya, dan sejenisnya.

b.      Projek

      Aktivitas pembelajaran yang memerlukan simulasi atau percobaan sangat tepat digunakan dalam pembelajaran di daerah bencana. Simulasi ini diutamakan menggunakan berbagai bahan lokal yang ada dan akrab dengan kehidupan anak-anak di lokasi tersebut. Simulasi bencana yang terjadi di lokasi (gunung meletus, tsunami, gempa, dan sebagainya) dapat dibuat dalam bentuk simulasi melalui bantuan kertas atau barang bekas lainnya. Dalam hal ini guru, siswa, dan juga orang tua bahkan relawan perlu mengidentifikasi dan kreatif membuat berbagai simulasi yang relevan dengan capaian pembelajaran.

c.       Bermain Peran

      Aktivitas pembelajaran melalui bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang cocok di daerah bencana. Membangun kerjasama, empati, dan sekaligus menghibur dapat diperoleh dalam pembelajaran ini. Budaya dan permainan-permainan lokal bisa menjadi alternatif bahan pembelajaran dalam model/metode ini. Para guru atau relawan sangat perlu untuk memahami budaya dan kearifan lokal ini.

d.      Bentuk-bentuk Model dan Metode Pembelajaran Lainnya

      Masih banyak yang bisa dilakukan oleh guru, orangtua dan relawan dalam membimbing anak-anak belajar di daerah bencana dengan menggunakan bentuk model dan metode pembelajaran lainnya. Kunci yang diperlukan adalah kreativitas dan kerjasama.

            Panduan pembelajaran di daerah bencana diperlukan sebagai bahan inspirasi para relawan dan guru, serta orang tua. Panduan ini tidak hanya perlu pada saat bencana, tetapi sudah seharusnya dimiliki dan dipahami oleh semua warga yang tinggal di daerah bencana. Diharapkan mereka memiliki kesiapan, sehingga jika terjadi bencana maka proses pembelajaran tetap bisa berjalan dengan efektif.

 

2.5  Hal-hal Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Pengelolaan Pembelajaran Pasca Bencana

           Adapun hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas pasca bencana antara lain sebagai berikut.

a.       Pengelolaan Ruang

      Pengelolaan ruang mewujudkan proses pembelajaran matematika efektif dan produktif. Pengelolaan ruang merupakan proses memaksimalkan kondisi fisik kelas, ventilasi, temperatur, tempat duduk, meja, dan perkakas lain yang mendukung kenyaman ruang pembelajaran. Proses pembelajaran efektif dan produktif, yaitu proses pembelajaran yang melibatkan komponen-komponen pembelajaran dan tujuannya tercapai optimal.

b.      Pengelolaan Media

      Pengelolaan media menumbuhkan motivasi dan pemahaman konsep. Pengelolaan media merupakan proses mengoptimakan segala sesuatu yaitu orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Motivasi merupakan dorongan dan harapan yang dapat menumbuhkan keinginan yang positif. Pemahaman konsep adalah kemampuan dalam memahami ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengkategorikan sekumpulan objek.

c.       Pengelolaan Materi

      Pengelolaan materi ajar yang holistik mewujudkan hasil belajar optimal. Pengelolaan materi ajar yang holistik dimaksud memperhatikan urgensi, kompleksitas, dan kedalaman materi. Materi matematika bersumber dari SI yang memuat SK, KD, dan materi pokok. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang berkaitan dengan kognitif proses dan produk, afektif, psikomotor, dan sosial siswa yang diperoleh setelah pembelajaran.

d.      Pengelolaan Bahan Ajar

      Pengelolaan bahan ajar yang bervariasi menciptakan pengembangan kemampuan berpikir reflektif siswa. Pengelolaan bahan ajar yang bervariasi, yaitu penggunaan bermacam-macam buku sumber pelajaran yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran. Berpikir reflektif merupakan kegiatan yang aktif, tidak pasif, dan memerlukan usaha (dalam usaha termuat doa dan tindakan). Berpikir reflektif meliputi menjelaskan sesuatu atau mencoba menghubungkan ide-ide yang terkait. Berpikir reflektif bisa terjadi saat para siswa mencoba memahami penjelasan orang lain, ketika siswa bertanya, dan ketika siswa menyelidiki atau menjelaskan kebenaran ide mereka sendiri.

e.       Pengelolaan Interaksi

      Pengelolaan interaksi menjadikan proses pembelajaran hidup dan menyenangkan, dan pada gilirannya tujuan pembelajaran tercapai optimal. Pengelolaan interaksi dalam pembelajaran matematika merupakan pengaturan hubungan timbal balik antara guru dan siswa, serta antarsiswa secara optimal. Proses pembelajaran yang hidup dan menyenangkan, yaitu aktivitas pembelajaran yang mengoptimalkan kemampuan siswa dengan guru sebagai fasilitator dan berbagai aktivitas beragam yang membantu mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.

Pengelolaan ruang harus dapat mendukung pemahaman matematika yang tinggi. Guru perlu mengelola materi ajar secara efektif dengan memanfaatkan bahan ajar yang bervariasi dengan memahami apa yang siswa ketahui dan perlukan, kemudian memberi tantangan dan dukungan agar siswa mempelajarinya dengan baik. Interaksi dalam pembelajaran matematika selalu dikembangkan melalui komunikasi yang sehat, mulai pra-pembelajaran sampai penilaian berakhir. Penilaian harus mendukung pembelajaran matematika dan memberi informasi yang berguna bagi guru dan siswa. Para siswa harus belajar matematika dengan pemahaman dan secara aktif membangun pengetahuan baru dengan memanfaatkan TIK. Teknologi mempengaruhi pengembangan matematika dan meningkatkan kualitas belajar siswa.

 

2.6  Langkah-langkah Perancangan Pembelajaran Pasca Bencana

            Seperti yang kita ketahui beban psikologis dan trauma anak atas bencana dapat membuat anak kehilangan motivasi belajarnya. Secara psikologis, dampak bencana menurut Daryanto dapat mengakibatkan anak-anak kelelahan rohani. Kemudian, kelelahan rohani ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar anak (Daryanto, 2010). Kondisi yang demikian ini membutuhkan penanganan yang khusus agar tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan.

            Adapun langkah-langkah perancangan pembelajaran yang dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran pasca bencana.

a.       Menentukan capaian pembelajaran berdasarkan kompetensi yang terdapat dalam kurikulum.

      Pada saat merancang model pembelajaran, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan capaian atau tujuan pembelajaran. Capaian atau tujuan pembelajaran ditentukan setelah melakukan analisis terhadap kompetensi yang ada pada kurikulum yang berlaku. Dalam menganalisis kompetensi, ada beberapa kaidah yang harus diikuti: pertama, perhatikan dengan seksama level kemampuan yang akan dicapai. Level kemampuan dimaksud akan terlihat pada Kata Kerja Operasional (KKO) yang digunakan yang dipadukan dengan konten atau materi pelajaran. Perpaduan antara level kata kerja operasional dan materi atau substansi menggambarkan kedalaman dan keluasan kompetensi yang akan dibelajarkan.

      Di samping akan menggambarkan tingkat kesulitan, capaian pembelajaran juga akan memberikan rambu-rambu terhadap aktivitas pembelajaran dan cara penilaian yang dapat dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Level paling bawah adalah kemampuan mengingat berbagai hal misalnya menyebutkan Kembali istilah yang pernah dipelajari, fakta, aturan, metode, atau cara melakukan sesuatu. Level berikutnya memahami yang diukur dari kemampuan menjelaskan, menafsirkan, mengartikan, menginterpretasikan konsep, kaidah, prinsip, table, grafik, atau bagan. Selanjutnya kemampuan menerapkan atau mengaplikasikan mencakup kemampuan memecahkan masalah, membuat bagan atau grafik, melaksanakan prosedur atau aturan, kaidah, langkah-langkah atau metode. Level berikutnya menganalisis mencakup kemampuan mengenali kesalahan, menguraikan sebuah fakta atau proses yang melibatkan berbagai aspek. Selanjutnya mengevaluasi yaitu kemampuan menilai sesuatu berdasarkan norma apakah sesuatu itu sesuai dengan aturan yang ada, benar atau salah, serta menentukan Langkah-langkah yang harus dilakukan. Level tertinggi adalah menciptakan atau berkreasi, misalnya menyusun laporan, membuat model, atau karya lainnya.

      Semua ini juga diikuti dengan berbagai keterampilan motorik seperti mengatur, mengumpulkan, mengubah, memperbaiki, merancang, memproduksi, mengemas, membentuk atau membuat sketsa. Demikian juga halnya dengan kemampuan afeksi seperti menunjukkan kesadaran, kepedulian, empati, tanggung jawab, kreatifitas, kemandirian, dan keyakinan akan kebenaran. Pencapaian komemapuan tersebut tidak harus selalu dimulai dari memberikan pengetahuan, dapat dimulai dari pembieasaan atau keterampilan melakukan sesuatu. Justru ketika proses diawali melalui pembiasaan, maka penguasaan pengetahuan dan keterampilan akan lebih mudah karena prosesnya terjadi secara alami. Di samping memudahkan, proses tersebut jua memancing rasa ingin tahu yang tinggi sehingga menggerakkan semangat untuk mempelajari sesuatu secara mendalam.

      Semua kemampuan tersebut harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan, usia atau jenjang pendidikan anak. Untuk itu, semua capaian hasil pembelajaran yang sudah ditetapkan dijabarkan ke dalam beberapa indikator yang terukur atau dapat diamati, misalnya kemampuan menjelaskan, anak-anak dapat menyebutkan atau menguraikan cara-cara melakukan pertolongan jika ada teman yang terjatuh atau sakit, menerapkan cara membersihkan peralatan dengan benar, cara menyampaikan informasi kepada orang lain dan sebagainya. Semua indikator tersebut dicantumkan pada lembar observasi sebagai dasar untuk melakukan penilaian.

b.      Menentukan aktivitas yang mungkin dilakukan sesuai situasi dan kondisi di lingkungan peserta didik.

      Setelah memastikan capaian hasil pembelajaran atau tujuan pembelajaran, langkah berikut adalah memilih dan menentukan aktivitas yang mungkin atau dapat dilakukan sesuai dengan kondisi kedaruratan. Aktivitas tersebut diupayakan sealami mungkin, misalnya kerja bakti membersihkan lingkungan, merapihkan tempat pengungsian, membuat penyaringan air, bermai berbagai jenis permainan tradisional, olehraga, atau kesenian dan sebagainya. Kegiatan ini dapat dilakukan dari pagi hingga sore atau malam yang dilakukan secara menyenangkan. Anak-anak perlu dilibatkan dengan berbagai kegiatan dengan memperhatikan tingkat keamananya. Para tutor atau pendamping melakukan pengamatan atau observasi terhadap berbagai kegiatan sesuai dengan daftar indikator yang telah disusun sebelumnya.

c.       Menentukan strategi pembelajaran sesuai dengan aktivitas dan capaian kompetensi.

      Setelah memilih dan menentukan aktivitas, langkah berikutnya adalah merancang strategi pembelajaran agar semua aktivitas yang dilakuan bermuara pada capaian pembelajaran yang sudah ditetapkan. Pemilihan strategi ini untuk menjamin keterkaitan atau konsistensi antara capaian hasil pembelajaran yang diharapkan, dengan aktivitas serta semua kegiatan atau permainan yang dilakukan. Sesuai dengan hakikat pendidikan, strategi yang dipilih lebih mengutamakan pemberian pengalaman nyata, seperti keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial, merakit atau merancang sesuati, membuat karya seni atau menciptakan berbagai permainan. Melalui strategi pembelajaran tersebut, setiap anak melatih dirinya untuk berpikir kritis, berpikir kolaboratif atau holistik, kemampuan berkomunikasi, serta kreatifitas. Upayakan strategi pembelajaran yang dipilih mengarahkan anak untuk senantiasa menghasilkan sesuatu, mulai dari ide atau gagasan, menciptakan strategi, atau membuat karya-karya yang bermakna seperti daur ulang barang bekas, membuat penyaringan untuk mendapatkan air bersih, membuat poster, gambar, puisi, lagu, atau kegiatan keagamaan.

d.      Memilih dan menetapkan aktivitas nyata sesuai dengan strategi dan situasi serta kondisi nyata di lingkungan belajar (trauma healing).

      Langkah selanjutnya adalah memilih atau menetapkan aktivitas nyata sebagai wahana untuk memberikan pengalaman nyata kepada setiap anak sesuai dengan rancangan capaian pembelajaran, skenario pembelajaran atau aktivitas pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya, serta sejalan dengan berbagai kegiatan atau kondisi nyata yang ada di tempat pengungsian atau belajar darurat. Upayakan kegiatan yang dipilih benar-benar membuat anak larut dalam kegiatan dan asyik melakukan sesuatu sehingga tanpa disadari pelan-pelan mereka melupakan peristiwa atau trauma yang terjadi. Pada saat setiap anak menemukan berbagai berbagai cara atau kesibukan belajar seperti merancang sesuatu, bermain, bakti sosial, membuat denah, poster, atau melaporakan sebuah kejadian melalui berbagai cara akan mendorong setiap anak untuk memulihkan traumanya.

e.       Memilih muatan materi pelajaran yang relevan dengan capaian pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

      Langkah berikut adalah menetapkan materi pelajaran, yaitu mengaitkan semua aktivitas yang dilakukan dengan materi-materi pelajaran sesuai dengan kompetensi atau capaian pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Muatan materi pelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga dalam suatu aktivitas muatan materinya mencakup beberapa aspek sekaligus, misalnya pada saat bakti sosial, setiap anak memiliki kesempatan untuk mendalami ilmu yang berkaitan dengan aturan atau norma serta kepedulian (PPKn, Agama, dan IPS); ilmu tentang bagaimana menyampaikan informasi atau membuat laporan yang mudah dipahami (Bahasa), kemampuan merancang strategi atau prosedur yang dilengkapi dengan denah, jarak tempuh serta waktu yang diperlukan dalam melakukan sesuatu (IPS, IPA, dan Matematika), kemampuan merancang suatu produk (Prakarya, Seni Budaya, Matematika, IPA, Olahraga).

f.       Memilih tema yang tepat agar pembelajaran bermakna dan memotivasi semangat belajar peserta didik.

      Setelah capaian pembelajaran, aktivitas, strategi pembelajaran, kegiatan nyata, dan muatan materi pelajaran ditetapkan, langkah berikut adalah memilih tema yang sesuai. Fungsi tema adalah sebagai alat bantu agar pembelajaran menjadi bermakna dan mendorong tumbuhnya semangat belajar dan beraktivitas dari dalam diri setiap anak. Tema yang dipilih sangat fleksibel sesuai dengan situasi yang ada, semangat dan gairah belajar setiap anak, serta memancing rasa ingin tahu dan rasa ingin terus mempelajari atau melakukannya secara mandiri. Beberapa contoh tema yang relevan adalah, bermain sambil menjaga kesehatan, berkarya itu asyik, indahnya kebersamaan, peduli lingkungan, peduli sesama, dan seterusnya. Tema yang dipilih diupayakan dapat menyatukan semua anak dalam suatu aktivitas, dan mengintegrasikan berbagai aspek materi dan capaian pembelajaran.

g.      Memastikan semua aktivitas yang dilakukan dapat menguatkan nilai-nilai karakter peserta didik seperti wirausaha, mandiri, kreatif, percaya diri, produktif, kolaboratif, dan peduli/empati.

      Selanjutnya, memastikan bahwa semua aktivitas yang dilakukan benar-benar relevan dengan capaian pembelajaran, trauma healing, dan penguatan nilai-nilai karakter seperti kewirausahaan, kemandirian, kreatifitas, kepercayaan diri, produktifitas, kolaboratif, kepedulian, serta empati. Hal ini penting karena model ini terkait dengan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekaligus pemulihan trauma setiap anak. Agar semua itu dapat dan mudah dilakukan, para tutor atau pendamping menggunakan lembaran observasi yang telah disiapkan sebelumnya. Lembaran observasi tersebut memuat indikator-indikator capaian pembelajaran yang disusun berdasarkan capaian pembelajaran yang diintegrasikan dengan langkah-langkah pemulihan trauma. Lembaran observasi ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan atau memastikan pelayanan apa yang dibutuhkan setiap anak selanjutnya. Lembaran ini berfungsi sekaligus sebagai lembaran penilaian capaian pembelajaran yang dapat dikonversi ke pelaporan sebagaimana proses yang terjadi pada sekolah atau kelompok belajar dalam situasi normal. Artinya, lembaran ini dapat dijadikan dasar untuk pengisian rapor ketika setiap anak kembali belajar seperti biasa.

h.      Model ini dapat diterapkan dalam berbagai kondisi pada kelompok kecil, sedang, besar yang bersifat homogen.

      Apabila semua langkah tersebut di atas sudah dilakukan dengan baik, maka model ini dapat digunakan dalam berbagai situasi dan dapat dilakukan pada saat anak belajar mandiri, kelompok kecil, sedang maupun kelompok besar, baik yang bersifat homogen maupun heterogen. Salah satu kunggulan model ini adalah menyatukan antara proses pembelajaran sesuai kurikulum dengan trauma healing melalui berbagai aktivitas yang menyenagkan dan mengasyikan. Dengan demikian, proses belajar dapat tetap berlangsung dalam situasi apapun, sekalipun dalam keterbatasan berbagai hal. Keterbatasan sarana atau sumber daya lainnya tidak mengakibatkan proses belajar terhenti.

 


BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

            Masalah yang muncul akibat pasca bencana alam meliputi masalah psikologi, soaial ekonomi dan yang tak kalah menarik adalah keberlanjutan pendidikan anak-anak pasca bencana didaerah tertinggal. Permasalahan lain yang muncul dari bencana alam tersebut adalah masalah pendidikan, terutama menyangkut pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pendidikan.

            Pada anak yang mengalami trauma pada saat bencana alam yang perlu diperbaiki adalah karakter. Karakter yang dapat kita tumbuhkan salah satunya dapat menerima keadaan dan menumbuhkan daya juang. Khusus pada daerah yang mengalami pasca bencana sebagai relawan kita dapat memberikan beragam penyuluhan guna membangun kembali psikologi baik anak melalui pembelajaran yang menarik maupun dengan trauma healing dan tentunya tidak harus formal, upaya yang pernah dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan ketrampilan pada anak, karena dengan adanya pelatihan tersebut anak dapat bersosialisasi baik dengann teman sejawatnya maupun dengan orang tua dan penyuluh, melupakan sejenak mereka ada di lokasi darurat dan belajar dengan kondisi yang serba sederhana, tapi selaku relawan kita selain dapt membantu memperbaiki psikologi anak juga dapat membuat sikap anak menjadi tangguh karena dengan adanya pelatihan keterampilan mereka dapat melanjutkan hidup dan pengetahuan mereka secara tidak langsung juga bertambah.

            Pembelajaran dimulai dengan menganalisis kebutuhan peserta didik sesuai dengan usia atau jenjang pendidikan serta kondisi yang terjadi; menentukan capaian pembelajaran sesuai kurikulum yang terintegrasi dengan trauma healing dan budaya serta kearifan lokal. Apabila peserta didik jenjang pendidikannya sama (homogen) maka capaian pembelajaran (kompetensi dasar) yang dipilih satu jenjang, tetapi apabila peserta didiknya jenjang pendidikannya beragam, maka masing-masing capaian pembelajaran setiap jenjang harus ada. Langkah selanjutnya menentukan aktivitas yang mungkin dilakukan sesuai situasi dan kondisi sekaligus sebagai trauma healing. Berdasarkan pertimbangan tersebut, selanjutnya menentukan strategi pembelajaran. Kemudian memilih muatan materi pelajaran yang relevan dengan capaian/tujuan pembelajaran. Langkah selanjutnya memilih tema yang tepat agar pembelajaran bermakna dan memotivasi semangat belajar peserta didik, baik dalam kelompok kecil, sedang, besar bersifat homogen atau heterogen. Semua aktivitas yang dilakukan dapat menguatkan nilai-nilai karakter peserta didik seperti wirausaha, mandiri, kreatif, percaya diri, produktif, kolaboratif, dan peduli/empati. Terakhir, penilaian dilakukan untuk mengukur kertercapaian tujuan (kompetensi) melalui pengamatan perilaku atau cara lainnya yang relevan.

 

3.2  Saran

            Guna membantu anak yang terdampak bencana untuk tetap mendapatkan pendidikan diperlukan bantuan dari banyak pihak, misalnya guru, relawan, tutor dan sebagainya. Walaupun mungkin seorang guru di daerah terdampak juga pasti mengalami trauma, tetapi sebagai seorang guru dan sebagai orang dewasa sudah selayaknya kita membantu anak-anak untuk kembali ceria melalui trauma healing agar apa yang dirasakannya tidak berlanjut hingga dewasa nanti. Seperti yang kita ketahui, orang dewasa memiliki kecerdasan emosi yang lebih matang daripada anak-anak sehingga pemulihan trauma akibat bencana juga lebih cepat berkurang dibandingkan anak-anak. Kemudian, untuk pemerintah sudah seharusnya memberikan arahan kepada pemangku kepentingan untuk melalukan pemulihan daerah terdampak bencana yang terjadi sehingga pendidikan dapat berjalan kembali sebagaimana mestinya.


DAFTAR PUSTAKA

 

Warsihna, J., Anwas, E.O.M., Kosasih, F.R & Anas, Z. (2020). Berdamai dengan Bencana Melalui Pendidikan (Panduan Penyelenggaraan Pendidikan dalam Kondisi Darurat Bencana). Banten: Universitas Terbuka.

Innayah. (2011). Model Pembelajaran Di Sekolah Darurat Korban Bencana Gunung Merapi Di Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Teknodik, 15(1), 49-60.

Sutama, Sabar, N. & Haryoto (2012). Pengelolaan Pembelajaran Matematika Pascabencana Erupsi Merapi. Jurnal Kependidikan, 42(1), 7-17.

Suyoso, Astono, J. & Rosana, D. (2009). Model Kesiapsiagaan Bencana (Disaster Preparedness) dalam Bentuk Pembelajaran Sekolah Darurat dengan Pendekatan Fun Learning Menggunakan Media Pembelajaran dari Limbah Rumah Tangga untuk Penanganan Pendidikan di Daerah Pasca BencanaProsiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2009.