BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan,
baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana
alam merupakan suatu kejadian atau peristiwa alam yang tiba-tiba terjadi, tanpa
terencana, dan tidak dapat diduga oleh siapapun. Indonesia menjadi salah satu
negara yang sangat rentan terjadi bencana alam, setidaknya ada tiga penyebab
sering terjadinya bencana di Indonesia. Pertama, posisi Indonesia di antara dua
benua dan dua samudera. Kedua, Indonesia terletak di antara lempeng Australia,
lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Ketiga, Indonesia juga terletak di lingkaran
cincin api Pasifik. Keadaan geografis tersebut menyebabkan Indonesia sebagai
tempat strategis untuk perdagangan dan hubungan antar negara. Namun, pada sisi
lain posisi tersebut menyebabkan Indonesia rentan terhadap bencana.
Bencana
membawa efek negatif luar biasa pada seluruh sendi kehidupan manusia. Temuan
berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang sangat signifikan pada
berbagai problem kesehatan fisik dan psikologis penyintas
bencana jangka panjang. Itu bisa berupa penurunan kemampuan individu dalam
melakukan penyesuaian diri karena berkaitan dengan perubahan kehidupan
personal, interpersonal, sosial, dan ekonomi pasca bencana.
Penelitian
lain juga menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara hilangnya
kekayaan pribadi, dukungan sosial, dan kesehatan fisik dengan meningkatnya
stress psikologis pasca bencana. Dampak bencana menurut Gregor (2005) sangat
terasa pada sebagian orang akibat kehilangan keluarga dan sahabat, kehilangan
tempat tinggal, dan harta benda, kehilangan akan makna kehidupan yang dimiliki,
perpindahan tempat hidup serta perasaan ketidakpastian karena kehilangan
orientasi masa depan, serta keamanan personal.
Baik pada
anak maupun pada orang dewasa dampak bencana bervariasi dari jangka pendek
sampai jangka panjang. Dampak emosional jangka pendek yang masih dapat dilihat
dengan jelas meliputi rasa takut dan cemas yang akut, rasa sedih dan bersalah
yang kronis, serta munculnya perasaan hampa. Pada sebagian orang
perasaan-perasaan ini akan pulih seiring berjalannya waktu. Namun pada sebagian
yang lain dampak emosional bencana dapat berlangsung lebih lama berupa trauma
dan problem penyesuaian pada kehidupan personal, interpersonal, sosial, dan
ekonomi pasca bencana. Sehingga penanganan trauma (traumatic healing) patut menjadi fokus baik pada anak-anak maupun
pada orang dewasa.
Dalam bidang
pendidikan, dengan adanya bencana-bencana yang rentan terjadi, pemerintah
melakukan kegiatan tanggap darurat, termasuk dengan mendirikan sekolah darurat
bagi anak-anak terdampak bencana. Pendirian/penyelenggaraan sekolah darurat ini
adalah sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang menyatakan bahwa negara mewujudkan hak
rakyat untuk mendapatkan pendidikan dasar 9 (sembilan) tahun yang bermutu dan
bebas biaya dengan mendukung upaya-upaya pengembangan pendidikan alternatif
khususnya untuk daerah-daerah yang terkena bencana, terpencil, serta untuk
kelompok-kelompok yang memiliki kebutuhan khusus (Depdiknas, 2003). Rekonstruksi
sekolah darurat adalah salah satu pengembangan infrastruktur. Setelah sekolah
dibangun, perlu digunakan untuk proses pembelajaran. Pembangunan sekolah
darurat ini harus dilanjutkan dengan persiapan staf pengajar dan persiapan
siswa dan kebutuhan belajar mereka. Tetapi harus dipikirkan bahwa ketika itu
terjadi, tidak hanya siswa yang trauma, para guru juga mengalami trauma.
Pemerintah
juga menyadari bahwa beban psikologis dan trauma anak atas bencana dapat
membuat anak kehilangan motivasi belajarnya. Secara psikologis, dampak bencana
menurut Daryanto dapat mengakibatkan anak-anak kelelahan rohani. Kemudian,
kelelahan rohani ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan
belajar anak (Daryanto, 2010). Kondisi yang demikian ini membutuhkan penanganan
yang khusus agar tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan (Joyful learning).
Di antara para korban
bencana, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana membuat siswa
belajar. Agar dapat belajar dalam kondisi pascabencana, tentu itu bukan masalah
yang mudah. Ada kemungkinan bahwa bangunan sekolah hancur, bahan ajar hilang,
seragam sekolah hilang, siswa berlindung dengan orang tua mereka, guru trauma,
orang-orang tinggal di tempat pengungsian, dan sebagainya. Untuk mengatasi
masalah siswa yang menjadi korban bencana, perlu dibuat sistem pendidikan yang
fleksibel.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat
dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Permasalahan
Pendidikan di Daerah Pasca Bencana
Masalah yang muncul akibat pasca
bencana alam meliputi masalah psikologi, sosial ekonomi dan yang tak kalah
menarik adalah keberlanjutan pendidikan anak-anak pasca bencana di daerah
tertinggal.
Permasalahan lain yang muncul dari
bencana alam tersebut adalah masalah pendidikan, terutama menyangkut pemenuhan
hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Kalau kita berbicara pendidikan formal
misalnya; banyak gedung sekolah yang hancur dan tidak dapat digunakan untuk
melaksanakan proses pembelajaran; atau kalau pun dapat, kondisinya sangat
mengkhawatirkan. Permasalahannya ialah, bagaimana nasib anak-anak yang
bersekolah di tempat itu? Akankah mereka dibiarkan saja tidak bersekolah karena
kondisinya memang sedang chaos? Permasalahan seperti inilah yang harus
memperoleh solusi terbaik, utamanya bagi anak-anak korban bencana alam itu
sendiri.
Dalam
konteks pelayanan pendidikan, anak yang menjadi korban bencana alam dapat
dikategori sebagai anak yang memiliki kelainan sosial; dan oleh karenanya
mereka berhak memperoleh pendidikan khusus dari penyelenggara negara alias pemerintah.
Konkretnya, meskipun daerah atau pemukimannya sedang terkena musibah bencana
alam namun demikian anak-anak yang bermukim di daerah tersebut harus tetap
mendapat perhatian atas kelangsungan pendidikannya. Dengan kata lain pendidikan
anak di daerah bencana alam tidak boleh diabaikan.
Karena itu,
evaluasi untuk keberlanjutan pendidikan jangan terjebak dengan formalitas
pendidikan. Proses belajar-mengajar tidak harus dilakukan di dalam ruangan. Di
mana saja dan kapan saja proses pendidikan bisa berlangsung. Hal terpenting
sekarang adalah bagaimana menyiapkan anak-anak korban bencana agar tidak
kehilangan masa depannya. Sungguh sangat disayangkan apabila potensi dan
kecerdasan mereka harus sirna gara-gara tidak adanya sarana dan prasarana
pendidikan.
2.2 Karakter yang Perlu
Ditumbuhkan sebagai Bagian Keberlanjutan Pendidikan di Daerah Bencana
Korban
bencana yang tidak memiliki imunitas psikologis khususnya anak-anak akan
menunjukkan perilaku antara lain menangis terus menerus, merintih memanggil
orang sudah meninggal karena bencana, duduk menyendiri dengan tatapan hampa,
ketakutan, dan tak memiliki nafsu makan. Bisa dibayangkan, apa yang akan
terjadi jika mereka dibiarkan dan tidak ada yang peduli. Tentu bantuan makanan
dan obat-obatan yang melimpah ruah, pembangunan rumah, pendidikan, dan
kesehatan menjadi kurang bermanfaat.
Banyak
makanan tersedia tetapi mereka tidak ingin makan, diberi modal tapi enggan
berusaha, dibangun sekolah tapi tidak ada yang berminat, diberi obat tetapi
tetap sakit, dibangunkan rumah juga tidak merasa bahagia. Oleh karena itu
mengembalikan kondisi mental yang porak poranda akibat bencana, penting
dilakukan beriringan dengan rehabilitasi fisik dan sarana prasarana agar mereka
dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan efektif. Hal ini sejalan
dengan peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 17
Tahun 2010 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Pasca Bencana, yang menyatakan bahwa salah satu aspek penting rehabilitasi adalah
masalah sosial psikologi yang dihadapi korban bencana.
Pada
anak yang mengalami trauma pada saat bencana alam yang perlu diperbaiki adalah
karakter. Karakter yang dapat kita tumbuhkan salah satunya dapat menerima
keadaan dan menumbuhkan daya juang. Khusus pada daerah yang mengalami pasca
bencana sebagai relawan kita dapat memberikan beragam penyuluhan guna membangun
kembali psikologi baik anak melalui pembelajaran yang menarik maupun dengan trauma healing dan tentunya tidak harus
formal, upaya yang pernah dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan
ketrampilan pada anak, karena dengan adanya pelatihan tersebut anak dapat
bersosialisasi baik dengann teman sejawatnya maupun dengan orang tua dan
penyuluh, melupakan sejenak mereka ada di lokasi darurat dan belajar dengan
kondisi yang serba sederhana, tapi selaku relawan kita selain dapt membantu
memperbaiki psikologi anak juga dapat membuat sikap anak menjadi tangguh karena
dengan adanya pelatihan keterampilan mereka dapat melanjutkan hidup dan
pengetahuan mereka secara tidak langsung juga bertambah.
Selain
itu daya juang dan jiwa wirausaha mereka dapat tumbuh karena merasa terjepit
pasca bencaal. Melalui pembentukan karakter yang diberikan pulalah anak dapat
kembali mendapat pembelajaran meski sedang berada dalam situasi pasca bencana
dan kondisi darurat.
2.3
Strategi
Pelaksanaan Pendidikan Darurat Pasca Bencana
Sebelumnya di Indonesia dan juga
sebagian besar negara di dunia mengalami bencana pandemi Covid-19. Bencana ini
telah melumpuhkan seluruh sendi kehidupan termasuk pendidikan. Dua tahun
lamanya anak dan mahasiswa tidak dapat sekolah Proses pembelajaran dilakukan
secara jarak jauh yaitu di rumah. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 719/P/2020, tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan
Pendidikan dalam Kondisi Khusus, pada salinan Kemendikbud tersebut dinyatakan
bahwa:
a.
Kurikulum
pada Kondisi Khusus
Berdasarkan hasil kajian, pelaksanaan kurikulum dalam kondisi
darurat (khusus) harus memperhatikan:
1) Usia
dan tahap perkembangan peserta didik
Pembelajaran berbasis aktifitas yang
menyenangkan sesuai dengan usia dan perkembangan peserta didik. Dalam pemilihan
aktifitas, untuk SD kelas rendah (1, 2, dan 3) harus memperhatikan aspek
keamanan, kondisi psikologis, dan mudah dilaksanakan dengan kondisi yang ada.
2) Capaian
kompetensi pada kurikulum yang mengutamakan kebermaknaan dan kebermanfaatan
dalam meningkatkan kualitas hidup di masa kini dan masa yang akan datang.
Pembelajaran berbasis aktifitas yang
mengarah kepada keterampilan dasar yang bermanfaat langsung dalam kehidupan
anak. Pelaksanaan kurikulum di daerah bencana (kondisi darurat) untuk jenjang
pendidikan SD kelas rendah (kelas 1, 2, dan 3) difokuskan kepada kompetensi
literasi dasar (membaca, menulis, dan berhitung). Sedangkan untuk jenjang
pendidikan SD kelas atas (kelas 4, 5, dan 6) difokuskan kepada kompetensi
literasi dan numerasi lanjutan, peduli lingkungan, kebersamaan, gotong-royong,
kemandirian, dan saling menghargai. Untuk jenjang pendidikan SMP dan
SMA/Sederajat difokuskan kepada keterampilan abad 21 (berpikir kritis, kreatif,
komunikatif, dan kolaboratif).
3) Mengutamakan
potensi, kebutuhan, budaya masyarakat, dan kearifan lokal.
Pembelajaran dapat dilakukan
menggunakan berbagai sumber/media pembelajaran. Umumnya sumber belajar di
sekolah dominan pada guru dan buku-buku pelajaran yang telah dirancang secara
khusus (by design). Banyak sumber
belajar yang dapat digunakan, antara lain: pesan, orang, bahan, alat, teknik,
dan lingkungan (AETC, 1985). Sumber belajar tersebut dapat dikategorikan dalam
dua jenis yaitu, pertama yang dirancang secara khusus untuk pembelajaran (by design), antara lain: buku pelajaran,
guru, video pembelajaran, audio pembelajaran, laboratorium, dan sejenisnya.
Kedua, sumber belajar yang tidak dirancang untuk pembelajaran tetapi dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran (by
utilization), antara lain: lingkungan sekitar sekolah, tokoh masyarakat,
praktisi, media massa, dan sejenisnya.
Pembelajaran pada daerah bencana
dapat menggunakan berbagai sumber belajar atau media pembelajaran yang tersedia
di lokasi bencana, baik sumber belajar by
design maupun by utilization.
Secara kuantitatif, jumlah sumber belajar by
utilization sangat banyak di sekitar sekolah dan di masyarakat. Kuncinya
adalah kreativitas guru dan siswa untuk memanfaatkan sumber-sumber belajar yang
sesuai dengan kebutuhan dan situasi pembelajaran. Begitupun pada daerah
bencana, guru dan siswa dituntut memiliki kreativitas dalam memanfaatkan
berbagai sumber belajar.
Acuan pemanfaatan media/sumber
belajar adalah ketercapaian kurikulum. Guru dituntut memahami kurikulum,
terutama kompetensi yang dituntut dalam pembelajaran. Begitupun siswa
diupayakan untuk terbiasa memahami tujuan pembelajaran. Setiap akan
melaksanakan pembelajaran, hendaknya siswa dibiasakan paham terhadap apa
kompetensi atau kemampuan yang dituntut dalam kurikulum. Tujuan pembelajaran
merupakan acuan dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan pembelajaran juga
merupakan acuan dalam memilih media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
tersebut.
Pembelajaran pada daerah bencana,
penting memahami tujuan pembelajaran tersebut. Tujuan pembelajaran, biasanya
sudah dirumuskan pada setiap buku teks pelajaran. Para siswa dan guru dapat
memperhatikan terhadap tujuan yang telah dirumuskan pada buku teks pelajarn
tersebut. Mengacu pada tujuan tersebut, guru, siswa, dan orangtua siswa, serta
relawan dapat melakukan berbagai bentuk atau model-model pembelajaran yang
sesuai dengan kondisi di daerah bencana.
Prinsip pembelajaran bahwa tidak ada
satupun model pembelajaran yang cocok untuk semua kondisi pembelajaran.
Begitupun tidak ada satu media pembelajaran atau metode pembelajaran yang cocok
untuk semua kondisi pembelajaran.
Pembelajaran yang baik adalah
pembelajaran dimana pemilihan metode, model, atau media pembelajaran yang tepat
sesuai dengan kondisi pembelajaran masing masing. Artinya metode, model, atau
media pembelajaran yang baik di daerah bencana adalah yang sesuai dengan
kondisi/situasi di daerah tersebut. Indikator ‘sesuai’ adalah yang tersedia,
bisa dimanfaatkan, dan relevan dengan capaian tujuan pembelajaran tersebut.
Disinilah peran guru dan orang tua sangat penting dalam keberhasilan proses
pembelajaran di daerah bencana. Acuan efektivitas pembelajaran adalah
ketercapaian kompetensi yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran secara umum dapat
dibagi dalam dua jenis yaitu media cetak dan media elektronik. Media
pembelajaran dalam bentuk cetak, misalnya: buku, modul, buku latihan, brosur,
leaflet, media massa cetak (koran, majalah), bahan bacaan cetak dan sejenisnya.
Media pembelajaran bentuk elektronik, milsanya: audio pembelajaran, video/TV
pembelajaran, media massa elektronik, multimedia, buku elektronik, dan sejenisnya.
Sama halnya dengan sumber berlajar,
media pembelajaran (cetak dan elektronik) ada yang dirancang secara khusus
untuk pembelajaran (by design) dan
ada pula yang tidak dirancang untuk pembelajaran tetapi dapat dimanfaatkan
untuk pembelajaran (by design),
misalnya media massa. Penggunaan media pembelajaran di daerah bencana bisa
menggunakan kedua kelompok media tersebut.
Kelompok media pembelajaran (cetak
dan elektronik) memiliki karakteristik kelebihan dan kelemahannya
masing-masing. Media pembelajaran cetak, kelebihannya: bisa digunakan secara
praktis, mudah diulang-ulang, dan tidak perlu menggunakan peralatan khusus. Di
sisi lain media pembelajarn cetak, kelemahannya dalam hal distribusi perlu
dilakukan secara langsung dan perlu biaya pengiriman. Karakteristik media
pembelajaran elektronik, kelebihannya: lebih menarik dalam pemanfaatan,
distribusinya mudah khususnya yang berbasis jaringan (internet). Kelemahannya,
perlu peralatan khusus (devices) dan dukungan jaringan internet.
Tingkat keefektifan media
pembelajaran tersebut sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan yang
tepat. Media pembelajaran by design belum menjamin menghasilkan pembelajaran
yang efektif. Sebaliknya, pemanfaatan media pembelajaran by utilization sangat mungkin lebih efektif digunakan jika
dilakukan melalui pemilihan dan penggunaan yang tepat.
Pemanfaatan media pada daerah
bencana, bisa menggunakan media pembelajaran cetak maupun elektronik. Pemilihan
media pembelajaran perlu mempertimbangkan berbagai faktor, terutama ketersediaan
infrastruktur di daerah bencana, antara lain: jaringan internet, teknologi broadcast (siaran radio dan televisi),
jaringan listrik, dan sejenisnya.
Daerah yang tidak memiliki dukungan
infrastruktur listrik dan internet tidak disarankan untuk menggunakan media
pembelajaran dalam bentuk elektronik. Pada daerah ini lebih cocok menggunakan
media pembelajaran dalam bentuk cetak. Begitupun budaya masyarakat lokal, jika
belum melek teknologi TIK khususnya untuk pembelajaran sebaiknya tidak
dipaksakan menggunakan media pembelajaran dalam bentuk elektronik. Pada daerah
seperti ini bisa dilakukan penggunaan campuran antara media cetak dan media
elektronik. Faktor budaya dan kearifan masyarakat lokal di daerah bencana
sangat penting dipertimbangkan dalam memilih: metode dan media pembelajaran.
Dalam
kelompok tersebut, baik kecil, sedang, dan besar; baik homogen maupun
heterogen, semua dilakukan trauma healing
dalam bentuk permainan, diskusi, simulasi, kegiatan seni, olahraga, dan
menonton tayangan (film atau dongeng).
2.4
Implementasi
Pembelajaran pada Daerah Bencana
Implementasi pembelajaran pada
daerah bencana dapat dilakukan dengan berbagai strategi, metode, dan juga
langkah-langkah yang tepat. Ketepatan ini didasarkan pada kondisi lokasi,
kesiapan insfrastruktur, dan juga sosial budaya masyarakat lokal. Model
pembelajaran diupayakan pada aktivitas pembelajaran yang menyenangkan, melibatkan
tidak hanya kognitif tetapi juga aspek psikomotorik. Hal ini penting sebagai
upaya untuk mengurangi rasa jenuh, stres, trauma, dan berbagai dampak psikis
akibat bencana yang telah mereka alami.
Beberapa bentuk dan model
pembelajaran yang dapat dilakukan di daerah bencana, antara lain:
a. Praktek
Nyata
Banyak bentuk dan praktek pembelajaran yang bisa dilakukan di
daerah bencana. Praktek ini bisa dilakukan pada lokasi pengungsian atau
tempat-tempat anak-anak korban bencana ditampung. Praktek ini diupayakan yang
memiliki multi fungsi, baik proses maupun hasilnya. Misalnya praktek bersama
dalam memasak berbagai makanan olahan, praktek olahraga, kesenian, prakarya,
dan sejenisnya.
b. Projek
Aktivitas pembelajaran yang memerlukan simulasi atau percobaan
sangat tepat digunakan dalam pembelajaran di daerah bencana. Simulasi ini
diutamakan menggunakan berbagai bahan lokal yang ada dan akrab dengan kehidupan
anak-anak di lokasi tersebut. Simulasi bencana yang terjadi di lokasi (gunung
meletus, tsunami, gempa, dan sebagainya) dapat dibuat dalam bentuk simulasi
melalui bantuan kertas atau barang bekas lainnya. Dalam hal ini guru, siswa,
dan juga orang tua bahkan relawan perlu mengidentifikasi dan kreatif membuat
berbagai simulasi yang relevan dengan capaian pembelajaran.
c. Bermain
Peran
Aktivitas pembelajaran melalui bermain peran merupakan salah
satu model pembelajaran yang cocok di daerah bencana. Membangun kerjasama,
empati, dan sekaligus menghibur dapat diperoleh dalam pembelajaran ini. Budaya
dan permainan-permainan lokal bisa menjadi alternatif bahan pembelajaran dalam
model/metode ini. Para guru atau relawan sangat perlu untuk memahami budaya dan
kearifan lokal ini.
d. Bentuk-bentuk
Model dan Metode Pembelajaran Lainnya
Masih banyak yang bisa dilakukan oleh guru, orangtua dan relawan
dalam membimbing anak-anak belajar di daerah bencana dengan menggunakan bentuk
model dan metode pembelajaran lainnya. Kunci yang diperlukan adalah kreativitas
dan kerjasama.
Panduan pembelajaran di daerah
bencana diperlukan sebagai bahan inspirasi para relawan dan guru, serta orang
tua. Panduan ini tidak hanya perlu pada saat bencana, tetapi sudah seharusnya
dimiliki dan dipahami oleh semua warga yang tinggal di daerah bencana.
Diharapkan mereka memiliki kesiapan, sehingga jika terjadi bencana maka proses
pembelajaran tetap bisa berjalan dengan efektif.
2.5
Hal-hal
Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Pengelolaan Pembelajaran Pasca Bencana
Adapun hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam
pengelolaan kelas pasca bencana antara lain sebagai berikut.
a.
Pengelolaan
Ruang
Pengelolaan ruang mewujudkan proses
pembelajaran matematika efektif dan produktif. Pengelolaan ruang merupakan
proses memaksimalkan kondisi fisik kelas, ventilasi, temperatur, tempat duduk,
meja, dan perkakas lain yang mendukung kenyaman ruang pembelajaran. Proses
pembelajaran efektif dan produktif, yaitu proses pembelajaran yang melibatkan
komponen-komponen pembelajaran dan tujuannya tercapai optimal.
b.
Pengelolaan Media
Pengelolaan media menumbuhkan motivasi dan
pemahaman konsep. Pengelolaan media merupakan proses mengoptimakan segala
sesuatu yaitu orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi
yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Motivasi merupakan dorongan dan harapan yang dapat menumbuhkan keinginan yang
positif. Pemahaman konsep adalah kemampuan dalam memahami ide abstrak yang
dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengkategorikan sekumpulan objek.
c.
Pengelolaan Materi
Pengelolaan materi ajar yang holistik
mewujudkan hasil belajar optimal. Pengelolaan materi ajar yang holistik
dimaksud memperhatikan urgensi, kompleksitas, dan kedalaman materi. Materi
matematika bersumber dari SI yang memuat SK, KD, dan materi pokok. Hasil
belajar merupakan perubahan perilaku yang berkaitan dengan kognitif proses dan
produk, afektif, psikomotor, dan sosial siswa yang diperoleh setelah
pembelajaran.
d.
Pengelolaan Bahan Ajar
Pengelolaan bahan ajar yang bervariasi
menciptakan pengembangan kemampuan berpikir reflektif siswa. Pengelolaan bahan
ajar yang bervariasi, yaitu penggunaan bermacam-macam buku sumber pelajaran
yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran. Berpikir reflektif
merupakan kegiatan yang aktif, tidak pasif, dan memerlukan usaha (dalam usaha
termuat doa dan tindakan). Berpikir reflektif meliputi menjelaskan sesuatu atau
mencoba menghubungkan ide-ide yang terkait. Berpikir reflektif bisa terjadi
saat para siswa mencoba memahami penjelasan orang lain, ketika siswa bertanya,
dan ketika siswa menyelidiki atau menjelaskan kebenaran ide mereka sendiri.
e.
Pengelolaan Interaksi
Pengelolaan interaksi
menjadikan proses pembelajaran hidup dan menyenangkan, dan pada gilirannya
tujuan pembelajaran tercapai optimal. Pengelolaan interaksi dalam pembelajaran
matematika merupakan pengaturan hubungan timbal balik antara guru dan siswa,
serta antarsiswa secara optimal. Proses pembelajaran yang hidup dan
menyenangkan, yaitu aktivitas pembelajaran yang mengoptimalkan kemampuan siswa
dengan guru sebagai fasilitator dan berbagai aktivitas beragam yang membantu
mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.
Pengelolaan ruang harus dapat mendukung
pemahaman matematika yang tinggi. Guru perlu mengelola materi ajar secara
efektif dengan memanfaatkan bahan ajar yang bervariasi dengan memahami apa yang
siswa ketahui dan perlukan, kemudian memberi tantangan dan dukungan agar siswa
mempelajarinya dengan baik. Interaksi dalam pembelajaran matematika selalu
dikembangkan melalui komunikasi yang sehat, mulai pra-pembelajaran sampai
penilaian berakhir. Penilaian harus mendukung pembelajaran matematika dan
memberi informasi yang berguna bagi guru dan siswa. Para siswa harus belajar
matematika dengan pemahaman dan secara aktif membangun pengetahuan baru dengan
memanfaatkan TIK. Teknologi mempengaruhi pengembangan matematika dan
meningkatkan kualitas belajar siswa.
2.6
Langkah-langkah
Perancangan Pembelajaran Pasca Bencana
Seperti yang kita ketahui beban
psikologis dan trauma anak atas bencana dapat membuat anak kehilangan motivasi
belajarnya. Secara psikologis, dampak bencana menurut Daryanto dapat
mengakibatkan anak-anak kelelahan rohani. Kemudian, kelelahan rohani ini
menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar anak (Daryanto,
2010). Kondisi yang demikian ini membutuhkan penanganan yang khusus agar
tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan.
Adapun langkah-langkah perancangan
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran pasca bencana.
a. Menentukan
capaian pembelajaran berdasarkan kompetensi yang terdapat dalam kurikulum.
Pada saat merancang model pembelajaran, hal pertama yang harus
dilakukan adalah menentukan capaian atau tujuan pembelajaran. Capaian atau
tujuan pembelajaran ditentukan setelah melakukan analisis terhadap kompetensi
yang ada pada kurikulum yang berlaku. Dalam menganalisis kompetensi, ada
beberapa kaidah yang harus diikuti: pertama, perhatikan dengan seksama level
kemampuan yang akan dicapai. Level kemampuan dimaksud akan terlihat pada Kata
Kerja Operasional (KKO) yang digunakan yang dipadukan dengan konten atau materi
pelajaran. Perpaduan antara level kata kerja operasional dan materi atau
substansi menggambarkan kedalaman dan keluasan kompetensi yang akan
dibelajarkan.
Di samping akan menggambarkan tingkat kesulitan, capaian
pembelajaran juga akan memberikan rambu-rambu terhadap aktivitas pembelajaran
dan cara penilaian yang dapat dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Level paling bawah adalah kemampuan mengingat berbagai hal misalnya menyebutkan
Kembali istilah yang pernah dipelajari, fakta, aturan, metode, atau cara
melakukan sesuatu. Level berikutnya memahami yang diukur dari kemampuan
menjelaskan, menafsirkan, mengartikan, menginterpretasikan konsep, kaidah,
prinsip, table, grafik, atau bagan. Selanjutnya kemampuan menerapkan atau
mengaplikasikan mencakup kemampuan memecahkan masalah, membuat bagan atau
grafik, melaksanakan prosedur atau aturan, kaidah, langkah-langkah atau metode.
Level berikutnya menganalisis mencakup kemampuan mengenali kesalahan,
menguraikan sebuah fakta atau proses yang melibatkan berbagai aspek.
Selanjutnya mengevaluasi yaitu kemampuan menilai sesuatu berdasarkan norma
apakah sesuatu itu sesuai dengan aturan yang ada, benar atau salah, serta
menentukan Langkah-langkah yang harus dilakukan. Level tertinggi adalah menciptakan
atau berkreasi, misalnya menyusun laporan, membuat model, atau karya lainnya.
Semua ini juga diikuti dengan berbagai keterampilan motorik
seperti mengatur, mengumpulkan, mengubah, memperbaiki, merancang, memproduksi,
mengemas, membentuk atau membuat sketsa. Demikian juga halnya dengan kemampuan
afeksi seperti menunjukkan kesadaran, kepedulian, empati, tanggung jawab,
kreatifitas, kemandirian, dan keyakinan akan kebenaran. Pencapaian komemapuan
tersebut tidak harus selalu dimulai dari memberikan pengetahuan, dapat dimulai
dari pembieasaan atau keterampilan melakukan sesuatu. Justru ketika proses
diawali melalui pembiasaan, maka penguasaan pengetahuan dan keterampilan akan
lebih mudah karena prosesnya terjadi secara alami. Di samping memudahkan, proses
tersebut jua memancing rasa ingin tahu yang tinggi sehingga menggerakkan
semangat untuk mempelajari sesuatu secara mendalam.
Semua kemampuan tersebut harus disesuaikan dengan tingkat
perkembangan, usia atau jenjang pendidikan anak. Untuk itu, semua capaian hasil
pembelajaran yang sudah ditetapkan dijabarkan ke dalam beberapa indikator yang
terukur atau dapat diamati, misalnya kemampuan menjelaskan, anak-anak dapat
menyebutkan atau menguraikan cara-cara melakukan pertolongan jika ada teman
yang terjatuh atau sakit, menerapkan cara membersihkan peralatan dengan benar,
cara menyampaikan informasi kepada orang lain dan sebagainya. Semua indikator
tersebut dicantumkan pada lembar observasi sebagai dasar untuk melakukan
penilaian.
b. Menentukan
aktivitas yang mungkin dilakukan sesuai situasi dan kondisi di lingkungan
peserta didik.
Setelah memastikan capaian hasil pembelajaran atau tujuan
pembelajaran, langkah berikut adalah memilih dan menentukan aktivitas yang
mungkin atau dapat dilakukan sesuai dengan kondisi kedaruratan. Aktivitas
tersebut diupayakan sealami mungkin, misalnya kerja bakti membersihkan
lingkungan, merapihkan tempat pengungsian, membuat penyaringan air, bermai
berbagai jenis permainan tradisional, olehraga, atau kesenian dan sebagainya. Kegiatan
ini dapat dilakukan dari pagi hingga sore atau malam yang dilakukan secara
menyenangkan. Anak-anak perlu dilibatkan dengan berbagai kegiatan dengan
memperhatikan tingkat keamananya. Para tutor atau pendamping melakukan
pengamatan atau observasi terhadap berbagai kegiatan sesuai dengan daftar
indikator yang telah disusun sebelumnya.
c. Menentukan
strategi pembelajaran sesuai dengan aktivitas dan capaian kompetensi.
Setelah memilih dan menentukan aktivitas, langkah berikutnya
adalah merancang strategi pembelajaran agar semua aktivitas yang dilakuan
bermuara pada capaian pembelajaran yang sudah ditetapkan. Pemilihan strategi
ini untuk menjamin keterkaitan atau konsistensi antara capaian hasil
pembelajaran yang diharapkan, dengan aktivitas serta semua kegiatan atau
permainan yang dilakukan. Sesuai dengan hakikat pendidikan, strategi yang
dipilih lebih mengutamakan pemberian pengalaman nyata, seperti keterlibatan
dalam berbagai kegiatan sosial, merakit atau merancang sesuati, membuat karya
seni atau menciptakan berbagai permainan. Melalui strategi pembelajaran
tersebut, setiap anak melatih dirinya untuk berpikir kritis, berpikir
kolaboratif atau holistik, kemampuan berkomunikasi, serta kreatifitas. Upayakan
strategi pembelajaran yang dipilih mengarahkan anak untuk senantiasa
menghasilkan sesuatu, mulai dari ide atau gagasan, menciptakan strategi, atau
membuat karya-karya yang bermakna seperti daur ulang barang bekas, membuat
penyaringan untuk mendapatkan air bersih, membuat poster, gambar, puisi, lagu,
atau kegiatan keagamaan.
d. Memilih
dan menetapkan aktivitas nyata sesuai dengan strategi dan situasi serta kondisi
nyata di lingkungan belajar (trauma
healing).
Langkah selanjutnya adalah memilih atau menetapkan aktivitas
nyata sebagai wahana untuk memberikan pengalaman nyata kepada setiap anak
sesuai dengan rancangan capaian pembelajaran, skenario pembelajaran atau
aktivitas pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya, serta sejalan dengan
berbagai kegiatan atau kondisi nyata yang ada di tempat pengungsian atau
belajar darurat. Upayakan kegiatan yang dipilih benar-benar membuat anak larut
dalam kegiatan dan asyik melakukan sesuatu sehingga tanpa disadari pelan-pelan
mereka melupakan peristiwa atau trauma yang terjadi. Pada saat setiap anak
menemukan berbagai berbagai cara atau kesibukan belajar seperti merancang
sesuatu, bermain, bakti sosial, membuat denah, poster, atau melaporakan sebuah
kejadian melalui berbagai cara akan mendorong setiap anak untuk memulihkan
traumanya.
e. Memilih
muatan materi pelajaran yang relevan dengan capaian pembelajaran sesuai dengan
kompetensi yang ingin dicapai.
Langkah berikut adalah menetapkan materi pelajaran, yaitu
mengaitkan semua aktivitas yang dilakukan dengan materi-materi pelajaran sesuai
dengan kompetensi atau capaian pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Muatan materi pelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga dalam suatu
aktivitas muatan materinya mencakup beberapa aspek sekaligus, misalnya pada
saat bakti sosial, setiap anak memiliki kesempatan untuk mendalami ilmu yang
berkaitan dengan aturan atau norma serta kepedulian (PPKn, Agama, dan IPS);
ilmu tentang bagaimana menyampaikan informasi atau membuat laporan yang mudah
dipahami (Bahasa), kemampuan merancang strategi atau prosedur yang dilengkapi
dengan denah, jarak tempuh serta waktu yang diperlukan dalam melakukan sesuatu
(IPS, IPA, dan Matematika), kemampuan merancang suatu produk (Prakarya, Seni
Budaya, Matematika, IPA, Olahraga).
f. Memilih
tema yang tepat agar pembelajaran bermakna dan memotivasi semangat belajar
peserta didik.
Setelah capaian pembelajaran, aktivitas, strategi pembelajaran,
kegiatan nyata, dan muatan materi pelajaran ditetapkan, langkah berikut adalah
memilih tema yang sesuai. Fungsi tema adalah sebagai alat bantu agar
pembelajaran menjadi bermakna dan mendorong tumbuhnya semangat belajar dan
beraktivitas dari dalam diri setiap anak. Tema yang dipilih sangat fleksibel
sesuai dengan situasi yang ada, semangat dan gairah belajar setiap anak, serta
memancing rasa ingin tahu dan rasa ingin terus mempelajari atau melakukannya
secara mandiri. Beberapa contoh tema yang relevan adalah, bermain sambil
menjaga kesehatan, berkarya itu asyik, indahnya kebersamaan, peduli lingkungan,
peduli sesama, dan seterusnya. Tema yang dipilih diupayakan dapat menyatukan
semua anak dalam suatu aktivitas, dan mengintegrasikan berbagai aspek materi
dan capaian pembelajaran.
g. Memastikan
semua aktivitas yang dilakukan dapat menguatkan nilai-nilai karakter peserta
didik seperti wirausaha, mandiri, kreatif, percaya diri, produktif,
kolaboratif, dan peduli/empati.
Selanjutnya, memastikan bahwa semua aktivitas yang dilakukan
benar-benar relevan dengan capaian pembelajaran, trauma healing, dan penguatan
nilai-nilai karakter seperti kewirausahaan, kemandirian, kreatifitas, kepercayaan
diri, produktifitas, kolaboratif, kepedulian, serta empati. Hal ini penting
karena model ini terkait dengan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan
kurikulum sekaligus pemulihan trauma setiap anak. Agar semua itu dapat dan
mudah dilakukan, para tutor atau pendamping menggunakan lembaran observasi yang
telah disiapkan sebelumnya. Lembaran observasi tersebut memuat
indikator-indikator capaian pembelajaran yang disusun berdasarkan capaian
pembelajaran yang diintegrasikan dengan langkah-langkah pemulihan trauma.
Lembaran observasi ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan atau
memastikan pelayanan apa yang dibutuhkan setiap anak selanjutnya. Lembaran ini
berfungsi sekaligus sebagai lembaran penilaian capaian pembelajaran yang dapat
dikonversi ke pelaporan sebagaimana proses yang terjadi pada sekolah atau
kelompok belajar dalam situasi normal. Artinya, lembaran ini dapat dijadikan
dasar untuk pengisian rapor ketika setiap anak kembali belajar seperti biasa.
h. Model
ini dapat diterapkan dalam berbagai kondisi pada kelompok kecil, sedang, besar
yang bersifat homogen.
Apabila semua langkah tersebut di atas sudah dilakukan dengan
baik, maka model ini dapat digunakan dalam berbagai situasi dan dapat dilakukan
pada saat anak belajar mandiri, kelompok kecil, sedang maupun kelompok besar,
baik yang bersifat homogen maupun heterogen. Salah satu kunggulan model ini
adalah menyatukan antara proses pembelajaran sesuai kurikulum dengan trauma
healing melalui berbagai aktivitas yang menyenagkan dan mengasyikan. Dengan
demikian, proses belajar dapat tetap berlangsung dalam situasi apapun,
sekalipun dalam keterbatasan berbagai hal. Keterbatasan sarana atau sumber daya
lainnya tidak mengakibatkan proses belajar terhenti.